Depresi Postpartum pasca melahirkan

Mungkin ibu-ibu sudah sering mendengar tentang istilah baby blues yang kerap dialami para ibu-ibu  setelah melahirkan, tapi tidak begitu familiar dengan istilah Postpartum Depression (Depresi Postpartum).

Seperti halnya baby blues, depresi postpartum ini juga terjadi pada ibu-ibu yang baru melahirkan. Hanya saja gangguannya bertahan lebih lama, lebih intens, dan lebih serius akibatnya jika terlambat ditangani.

Untuk mengenali lebih jauh mengenai depresi postpartum, penyebab, serta penanganannya, DR Dr Nurmiati Amir, SpKJ(K) dari Departemen Psikiatri RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo memberikan pemaparannya:

Depresi Secara Umum

Depresi lebih dari sekadar perasaan bad mood, sedih, ‘melow’, sensitif, atau feeling ‘blue’. Akan tetapi si penderita tampak sedih, hilang minat, tidak ada rasa senang, timbul rasa bersalah, tenaga berkurang, merasa rendah diri, tidak ada harapan, tidak berdaya, atau tidak bertenaga.

Depresi ini tidak dapat dianggap enteng karena merupakan penyakit serius yang melibatkan otak. Dalam depresi, perasaan sedih, cemas, atau perasaan ‘kosong’ mengikuti terus hari-hari penderita. Perasaan ini bisa dalam taraf ringan sampai berat dan biasanya akan menjadi lebih baik lebih baik dengan pengobatan.

Menurut Nurmiati, selain tanda-tanda di atas, penderita depresi juga bisa kehilangan gairah seksualnya.

“Kalau depresinya sampai kategori berat, dia bisa saja mendengar suara-suara berbisik di telinganya, berhalusinasi, seperti mendengar suara-suara perintah, misalnya kata-kata ‘cekik anakmu’ yang sesungguhnya tak ada,” buka Nurmiati seolah menyingkap beberapa kasus depresi dimana sang ibu tega membunuh anaknya sendiri.

“Baby Blues” vs “Depresi Postpartum”

Banyak ibu-ibu yang mengalami baby blues pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Biasanya, baby blues ditandai dengan:

* Memiliki suasana hati yang berubah-ubah

* Merasa sedih, cemas, atau kewalahan

* Kerap menangis

* Kehilangan nafsu makan

* Mengalami kesulitan tidur

Nah, baby blues ini paling sering hilang dalam beberapa hari atau seminggu. Gejala-gejalanya biasanya tidak parah dan tidak membutuhkan pengobatan.

Sementara pada postpartum, gejala-gejala depresinya bertahan lebih lama dan lebih parah. Depresi postpartum dapat muncul kapan saja dalam tahun pertama pascamelahirkan.

  • Gejala Depresi Postpartum
  • Pikiran menyakiti bayi
  • Pikiran menyakiti diri sendiri
  • Tidak memiliki kepentingan pada bayi
  • Keraguan tentang kemampuan Anda untuk menjadi ibu yang baik
  • Stres dari perubahan dalam rutinitas kerja dan rumah
  • Kebutuhan realistis untuk menjadi ibu yang sempurna
  • Kehilangan identitas diri yang Anda miliki sebelum hadirnya si kecil. Misalnya bentuk tubuh berubah dari ramping menjadi gemuk.
  • Perasaan kurang menarik

Bila gejala di atas sudah terlihat, penderita harus segera ditangani oleh dokter!

Penyebab Depresi

Tidak ada penyebab tunggal. Sebaliknya, depresi kemungkinan hasil dari kombinasi beberapa faktor seperti dikutip dari www.womenshealth.gov berikut:

– Depresi adalah penyakit mental yang cenderung menurun dalam keluarga. Wanita dengan riwayat keluarga depresi lebih cenderung memiliki depresi.

– Perubahan kimia di dalam otak yang diyakini memainkan peran besar dalam depresi.

– Kehidupan yang dijalani penuh dengan tekanan, seperti kematian orang yang dicintai, kemiskinan, pelecehan, dapat memicu depresi.

-Faktor hormonal yang unik pada wanita dapat menyebabkan depresi pada beberapa perempuan. Hormon secara langsung memengaruhi kimia otak yang mengontrol emosi dan suasana hati. Dan perempuan lebih berisiko depresi pada waktu tertentu dalam kehidupan mereka, seperti pubertas, selama dan setelah kehamilan, dan selama perimenopause.

“Sampai saat ini penyebab pasti terjadinya depresi postpartum belum diketahui. Tapi ada dugaan bahwa terjadinya akibat ketidakseimbangan hormon, faktor hormonal berpengaruh. Itu pun bukan harga mati karena masih ada faktor risiko lain seperti riwayat keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Atau sebelumnya dia pernah mengalami depresi. Faktor sosial lain seperti misalnya, support dari lingkungan yang minim. Nah, di negara-negara maju yang nilai relationship dengan keluarga rendah, tingkat depresi lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang sistem kekerabatannya masih kental. Seperti di Indonesia, support dari lingkungan masih besar terhadap ibu hamil atau yang baru melahirkan,” papar Nurmiati.

Bila Depresi Postpartum Dibiarkan Penderita mungkin merasa bersalah dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri sebagai seorang ibu. Perasaan ini bisa membuat depresi Anda lebih parah. Para peneliti percaya depresi postpartum pada ibu sangat memengaruhi bayinya.

Dalam hal ini bayi akan :

• Mengalami keterlambatan dalam perkembangan bahasa

• Masalah dengan ikatan ibu-anak

• Bermasalah dalam perilaku.

• Menangis lebih sering

Akan sangat membantu jika suami atau pengasuh dapat membantu memenuhi kebutuhan bayi disaat Anda mengalami depresi. Semua anak berhak mendapat kesempatan untuk memiliki ibu yang sehat. Dan semua ibu layak mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidup bersama anak-anak mereka.

Jika Anda merasa mengalami depresi selama kehamilan atau setelah melahirkan, jangan sampai menderita sendirian. Segeralah beritahu suami atau orang terdekat dan hubungi dokter!

Pengobatan Depresi

Secara umum ada dua jenis pengobatan untuk depresi:

– Talk Therapy

Melibatkan pembicaraan dengan seorang psikolog, terapis, atau pekerja sosial untuk belajar mengubah cara pasien depresi dalam berpikir, merasa, dan bertindak.

– Medis

Dokter akan memberikan resep obat antidepresan. Obat-obatan ini dapat membantu meredakan gejala depresi.

Metoda-metoda pengobatan dapat digunakan sendiri atau secara bersamaan. Jika Anda mengalami depresi, akan sangat memengaruhi bayi Anda. Pengobatan yang ditangani dengan segera sangat penting bagi diri Anda sendiri maupun bayi Anda. Bicarakan dengan dokter Anda tentang manfaat serta risiko dari obat antidepresan tersebut di saat Anda dalam kondisi hamil maupun menyusui.

Awasi tanda-tanda ini selama dan setelah melahirkan!

Ketika Anda hamil, atau setelah melahirkan, mungkin saja Anda depresi tapi Anda tidak menyadarinya. Beberapa perubahan normal selama dan setelah melahirkan dapat menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Namun jika Anda mengalami gejala berikut lebih dari 2 minggu, bergegas hubungi dokter Anda untuk penanganan segera.

Dokter akan mengetahui apakah gejala Anda disebabkan oleh depresi atau sesuatu yang lain. Dokter akan mengajukan pertanyaan untuk menguji tingkat depresi. Dokter akan merekomendasikan penderita untuk mendapatkan penanganan dari dokter spesialis kejiwaan yang mengkhususkan diri dalam mengobati depresi.

Beberapa wanita tidak memberitahu siapa pun tentang gejala-gejala mereka. Mereka merasa malu atau bersalah karena merasa tertekan ketika mereka seharusnya bahagia. Mereka khawatir akan dipandang sebagai orang tua tidak layak.

– Manfaat ikan bagi penderita postpartum

Ibu hamil dan bayi sama-sama membutuhkan asam lemak omega-3. Jika bayi membutuhkan untuk pertumbuhan otak dan mata, sang ibu memerlukan zat ini sebagai dasar mencegah terjadinya depresi postpartum. Dengan mengkonsumsi ikan, kebutuhan tersebut dapat dipenuhi ibu dan bayi.

Menyembuhkan ibu hamil dari depresi pasca melahirkan, bukan saja memerlukan terapi kelompok dengan panduan psikiater yang benar. Tapi juga membutuhkan asupan nutrisi yang dapat membuat pemulihan tubuh ibu berlangsung lebih cepat dan tepat. “Ibu hamil di negara Amerika kekurangan lemak omega-3,” kata dokter Jill Mallory, seorang dokter keluarga yang mempraktekkan pendekatan pengobatan integratif. Asam lemak omega-3 adalah DHA atau docosahexaenoic acid yang dapat ditemukan umumnya pada ikan tuna dan salmon, maupun ganggang laut.

Dalam penelitian lain yang jauh sebelumnya dilakukan, plasenta terbukti mendorong perpindahan DHA dari ibu pada bayi. Menurut Mallory, hal ini terjadi karena lemak tersebut diserap bayi untuk pertumbuhan otak dan mata, sehingga pada wanita pasca melahirkan perlu mengembalikan kadar tersebut dalam tubuh. Hal ini mejeleaskan bagaimana penurunan depresi dapat dilakukan dengan menaikkan asupan DHA pada ibu, dan jumlah DHA dalam ASI berhubungan dengan depresi postpartum dan terutama mengkonsumsi ikan yang bermanfaat.

Sumber : sumber okezone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *